Baru-baru ini produsen sepatu dan tas di kota kembang Adeng Sugianto meminta izin wapres untuk “memberi judul” sepatunya dengan inisial na
ma beliau “JK”. Meskipun sebelum izin turun label merek JK Collection Shoes sudah dibuat. Hal ini disampaikan oleh Adeng saat audensi dengan wapres di istana Wakil presiden. Adeng terinspirasi “membuat judul” sepatunya JK saat wapres berkunjung ke Cibaduyut. Menurut Adeng sejak wapres mencanangkan gerakan menggunakan sepatu dalam negeri, omzet penjualan sepatu Cibaduyut naik 50%. Wapres sih setuju tapi dengan syarat kualitas harus dijaga, jangan sampai yang memakai kakinya lecet.
“Sepatu Memerlukan Izin Untuk Mendongkrak Penjualan”
Kebetulan Jbox’s baru beli sepatu dengan harga kurang dari 4 U$ Amerika (jika dollar hari ini 11.300 jadi…. Hitung sendiri deh harga sepatu Jbox’s
) di swalayan terdekat, karena sepatu Jbox’s semata wayang kena semen dan sudah waktunya ganti. Ya sepatu produk lokal dengan harga terjangkau sedang untuk kwalitas jangan ditanya…!!?
untuk masalah merk …. (bukan JK pastinya
) Sebenarnya sangat pentingkah dampak merek Sepatu kepada penjualan…? Ato ada faktor lain mendongkrak penjualan…? dan ada cerita apa di balik sepatu
“Sepatu Dibeli Karena Kebutuhan”
Ingat peristiwa p
elemparan “pahlawan sepatu” oleh Muntadar al-Zaidi kepada mantan presiden AS George W.Bush. Ya sejak peristiwa tersebut Muntadar dielu-elukan warga Iraq sebagai pahlawan. Tidak kalah pentingnya dengan Muntadar sepatu Muntadar pun jadi rebutan produsen-produsen yang mengklaim bahwa Muntadar memakai sepatu buatan parbriknya. Bahkan ada yang mengabdikan namanya sebagai “judul” sepatu buatannya.
“Peristiwa Besar Terjadi Karena Sesuatu Yang Kecil (Sepatu)”
Di New Delhi, seorang jurnalis senior media berbahasa Hindi terbesar di India bernama Jarnail Singh melakukan pelemparan sepatu ala Muntadar karena tidak terima dengan jawaban Menteri Dalam Negeri Palaniappan Chidambaram atas kerusuhan Sikh 1984 silam. Dia melemparkan sepatu ke wajah pejabat tersebut saat jumpa pers. Beruntung gerak refleks si pejabat cepat sehingga berhasil menghindar dari lemparan sang wartawan. Sang wartawan pun akhirnya ditangkap. “Tenang…Tenang bawa dia dengan kalem. Emosi satu orang tidak akan mengacaukan jumpa pers kali ini” kata Chidambaran seperti dilaporkan BBC dan Reuters kemarin. Sempat terhenti akhirnya sesi Tanya jawab terkait kerusuhan yang merenggut nyawa sedikitnya 3.000 warga Sikh itu kembali dilanjutkan.
“Seperti Kata Orang Bijaksana : Manfaat Semua Benda Tergantung Dari Si Empunya”
Kisah dari Negeri dongeng tentang “Cinderella”, Seorang Wanita ayu yang disia-siakan oleh ibu tiri dan saudari-saudarinya. Sampai satu saat ingin hadir di pesta seorang
pangeran, dan ternyata keinginannya didengar peri baik hati dan bim…sala…bim berubahlah ia menjadi perempuan yang cantik yang siap ke pesta dengan syarat-syarat tertentu. Seperti biasa seperti di dongeng-dongeng akhirnya yang sabar lah yang menjadi perhatian sang pangeran. Ternyata waktu tidak memungkinkan akhirnya pergi tanpa pamit…eh lagi-lagi salah satu Sepatu sang putrid tertinggal. Singkat cerita pangeran mencari dengan cara mencocokkan sepatu di kaki wanita-wanita penjuru negeri. Dan akhirnya kita ketahui bersama Cinderalla lah yang berhak mendampingi sang pangeran.
“Sepatu Mempertemukan Dan Mempersatukan Si Miskin Dan Si Kaya”
Punya cerita mengenai sepatu …??!!